Hipertensi – Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan menyelesaikan analisa awal survei penyebab kematian berskala nasional. Survei yang disebut Sample Registration Survey (SRS) itu,menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama sebagai Kepala Balitbangkes, datanya dikumpulkan dari kejadian selama 2014.

Dari data itu terlihat bahwa 10 jenis penyakit paling sering menjadi penyebab kematian di Indonesia. Dan tahukah Anda bahwa ternyata hipertensi atau tekanan darah tinggi dengan komplikasi menempatu urutan ke lima dari 10 penyakit paling sering menyebabkan kematian di Indonesia itu. (CNN Indonesia, Kamis, 14/05/2015)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi kronis di mana tekanan darah pada dinding arteri (pembuluh darah bersih) meningkat. Hipertensi ini dapat terjadi ketika tekanan darah yang mengalir di dalam tubuh kita menjadi lebih tinggi dan diatas tekanan darah normal yang dianjurkan.

Biasanya, tekanan darah yang normal yang wajar pada manusia adalah berkisar pada angka 100 – 140 mmHg untuk kisaran sistoliknya, dan 60 – 90 mmHg untuk kisaran diastoliknya. Seseorang akan didiagnosa memiliki tekanan darah yang tinggi ketika menunjukkan angka diatas 140/90.

Kondisi darah tinggi ini dikenal sebagai “pembunuh diam-diam”, karena jarang memiliki gejala yang jelas. Satu-satunya cara mengetahui apakah Anda memiliki hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah. Jika Anda belum memeriksa dan tidak tahu tekanan darah Anda, mintalah kepada dokter untuk memeriksanya. Semua orang dewasa sebaiknya memeriksa tekanan darah mereka setidaknya setiap lima tahun sekali.

Macam-Macam Hipertensi

  1. Hipertensi Primer

Hipertensi primer merupakan tekanan darah tinggi yang terjadi karena sebab atau alasan medis yang tidak jelas asal usulnya. Hal ini merupakan suatu kondisi dimana tekanan darah seseorang meningkat karena disebabkan oleh faktor non – medis, seperti : stress, aktivitas yang berleihan atau terlalu sedikit, gaya hidup yang tidak sehat, keturunan, depresi, beban pikiran yang berlebihan, dan kelelahan.

2. Hipertensi Sekunder

Merupakan jenis tekanan darah tinggi dimana tekanan darah menjadi naik dan meninggi karena pengaruh kondisi medis yang jelas, yaitu merupakan efek samping dari gangguan – gangguan pada organ tubuh, seperti ginjal, arteri dan lain – lain.

Antisipasi Hipertensi

Risiko mengidap tekanan darah tinggi dapat dikurangi dengan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin juga bisa membantu diagnosis pada tahap awal. Diagnosis hipertensi sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan untuk menurunkan tekanan darah ke taraf normal. Dengan mengetahui besaran tekanan darah, maka akan bisa dilakukan dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat tanpa perlu mengonsumsi obat.
Mengukur Tekanan Darah

Kekuatan darah dalam menekan dinding arteri ketika dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh menentukan ukuran tekanan darah. Tekanan yang terlalu tinggi akan membebani arteri dan jantung Anda, sehingga pengidap hipertensi berpotensi mengalami serangan jantung, stroke, atau penyakit ginjal.

Pengukuran tekanan darah dalam takaran merkuri per milimeter (mmHG) dan dicatat dalam dua bilangan, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan darah saat jantung berdetak memompa darah keluar. Sedangkan tekanan diastolik merupakan tekanan darah saat jantung tidak berkontraksi (fase relaksasi).

Saat ini darah yang baru saja dipompa keluar jantung (tekanan sistolik), berada di pembuluh arteri dan tekanan diastolik juga menunjukkan kekuatan dinding arteri menahan laju aliran darah. Jika tekanan darah Anda 130 per 90 atau 130/90 mmHG, berarti Anda memiliki tekanan sistolik 130 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.

Angka normal tekanan darah adalah yang berada di bawah 120/80 mmHG. Anda akan dianggap mengidap tekanan darah tinggi jika hasil dari beberapa kali pemeriksaan, tekanan darah Anda tetap mencapai 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

Jika tekanan darah Anda tinggi, pantaulah dengan ketat sampai angka tersebut turun dan bisa dikendalikan dengan baik. Dokter biasanya menyarankan perubahan pada gaya hidup yang termasuk dalam pengobatan untuk hipertensi sekaligus pencegahannya.

Langkah tersebut bisa diterapkan melalui: mengonsumsi makanan sehat, mengurangi konsumsi garam dan kafein, berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menurunkan berat badan, jika diperlukan, meninggalkan minuman keras.

Mencegah tekanan darah tinggi lebih mudah dan murah dibandingkan dengan pengobatan. Karena itu, pencegahan sebaiknya dilakukan seawal mungkin. Jika didiamkan terlalu lama, hipertensi bisa memicu terjadinya komplikasi yang bahkan bisa mengancam jiwa pengidapnya.

Jangan Lupa:

Komentar

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here